Rabu, 04 Januari 2012

Membahas Mengenai Islam dan Dunia Kontemporer


KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam yang telah melimpahkan karunia-Nya kepada kita semua, sehingga kami selaku team penyusun dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah ini.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada utusan-Nya yang termulia, yakni Nabi Muhammad SAW. Yang telah membawa umatnya dari zaman kebodohan menuju zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Kami selaku penyusun sangat menyadari bahwa dalam penulisan dan penyusunan makalah ini masih terdapat kesalahan maupun kekeliruan. Oleh karenanya, kami sangat mengharapkan masukkan dan saran yang membangun dari para pembaca. Sehingga kami dapat belajar dari kesalahan tersebut dan dapat memperbaikinya di kemudian hari.
Akhirnya kami selaku penyusun mengucapkan banyak terima kasih atas kesediaan para pembaca yang telah berkenan membaca, memberikan saran maupun kritikkannya. Semoga semua ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amien….!




Serang,      November 2010



Penyusun



Islam dan Dunia Kontemporer

A. Latar belakang
Indonesia adalah Negara yang masyarakatnya sebagian besar beragama islam, sehingga sudah selayaknya menempatkan diri dalam membangun peradaban islam. Mau tidak mau suatu peradaban tersebut akan terbentuk oleh umatnya.
Perkembangan islam yang ada di indonesia tidak terlepas dari pengaruh perkembangan islam di belahan bumi lain. Kalau kita mau mengamati secara mendalam akan perkembangan islam di Indonesia maka kita harus mengamati mulai dari islam masuk, penyebaran, pengamalan, perkembangan dan kondisi yang kita alami sekarang di indonesia. Sebab, peristiwa sejarah merupakan problematika yang meliputi dimensi waktu masa lampau, sekarang dan masa yang akan dating.
            Meskipun islam datang dan berkembang di Indonesia lebih dari lima abad, namun pemahaman dan penghayatan keagamaan kita masih cenderung sinkretik; tarik-menarik antara nilai-nilai luhur islam dengan kebudayaan. Terlebih lagi ketika dihadapkan dengan kemajuan perkembangan zaman, yang lebih dikenal dengan istilah globalisasi. Dimana agama islam harus dapat menunjukan eksistensinya, baik bagi penganut agama islam itu sendiri maupun manusia pada umumnya.
            Oleh karena itu, perlu sekali diketahui sekaligus dipahami oleh para pemeluk agama islam itu sendiri, bagaimana islam pada dunia kontemporer (masa sekarang ini), baik dalam ruang lingkup yang bersifat tradisionalis, modernis, revivalis-fundamentalisme dan transformatif. Karena apabila para pemeluk agama islam itu sendiri tidak dapat memahami sekaligus mengetahui apa itu islam dan bagaimana perkembangan islam itu sendiri pada dunia kontemporer ini, maka biasa saja akan mungkin terjadi dimana agama islam itu sendiri tinggallah sebuah nama.

B. Islam dan Tradisi di Indonesia Sekarang
Meskipun sekarang ini sedang memasuki zaman teknik (modern) dan tidak lama lagi akan memasuki milennium ketiga, keberagaman kita tidak sepenuhnya dapat lepas dari pengaruh sinkretik yang diwariskan oleh para pendahulu kita. Sekarang ini, baik di perkotaan mupun di pedesaan, kita masih menyaksikan upacara-upacara seperti; nujuh bulan (upacara yang dilakukan ketika seorang istri telah hamil tujuh bulan), babaran (upacara kelahiran itu sendiri), pasaran (upacara yang dilakukan lima hari setelah melahirkan), dan pitonan (slametan yang dilakukan tujuh bulan setelah lahiran), meskipun tidak sepenuhnya sama.
Amaliah keagamaan kita di masyarakat dapat dilihat dari upacara nujuh bulan, dengan menyediakan makanan kecil yang kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar dan sekaligus memberi nama anak yang dilahirkan dengan membaca al-Barjanzi. Penggantian nama anak biasanya dilakukan karena anak yang bersangkutan sering sakit, dan anak tersebut akan sembuh apabila namanya diganti. Dalam penggantian nama pun dilakukan slametan lagi.
Begitu pula dengan upacara kematian, di daerah Betawi terdapat tradisi yang sangat berbeda dengan tradisi di Bandung. Di Betawi, apabila seseorang meninggal dunia, keluarga tersebut menyelenggarakan pembacaan Al-Qur’an yang lamanya bergantung pada usia yang meninggal. Lain halnya dengan kebiasaan di Bandung Timur. Upacara yang berhubungan dengan kematian seseorang dilakukan apabila ekonomi keluarga yang meninggal itu termasuk kelas menengah ke atas, keluarga yang ditinggalkan menyembelih kerbau kemudian daging kerbau tersebut dibagikan kepada masyarakat sekitar (sekitar tahun 1989 di Cileunyi Kulon masih didapatkn peristiwa ini), meskipun sekarang upacara itu hampir tidak pernah terjadi. Akan tetapi, masih banyak lagi berbagai macam jenis upacara keagamaan yang masih sangat kental dan sering dilaksanakan oleh kalangan masyarakat.

C. Pengaruh Globalisasi Terhadap Islam
Sekarang ini, dunia dengan perkembangan mutakhir dibidang teknologi komunikasi hampir tidak memiliki batas yang jelas; satu peristiwa yang sedang terjadi di Eropa atau Amerika serikat, secara langsung kita dapat menyaksikannya di rumah kita sendiri di Indonesia. Sayangnya, umat islam sekarang ini berada pada posisi yang sangat mengkhawatirkan. Di antara mereka, ada yang cukup maju tapi terbatas sebagai pengguna teknologi, bukan pencipta teknologi; lebih parah lagi, kebanyakan umat islam banyak yang sangat terlambat dalam mengikuti perkembangan teknologi tersebut, di antara mereka masih ada yang belum mampu mengoperasikan computer, internet, dan beberapa produk teknologi lainnya.
Karena rendah dalam penguasaan dan pengembangan sains dan teknologi, umat islam menjadi menjadi kelompok yang terbelakang. Mereka hampir diidentikkan dengan kebodohan, kemiskinan, dan tidak mau berperadaban. Sedangkan di sisi lain, umat agama lain begitu maju dengan berbagai teknologi. Atas dasar itulah, terjadi berbagai reaksi terhadap kemajuan pemeluk agama-agama lain. Secara umum, reaksi tersebut dapat dibedakan menjadi empat, yaitu tradisionalis, modernis, revivalis, dan transformatif.[1]

1. Tradisionalis
Pemikiran tradisionalis percaya bahwa kemunduran umat islam adalah ketentuan dan rencana Tuhan. Hanya Tuhan yang maha tahu tentang arti dan hikmah di balik kemunduran dan keterbelakangan umat islam. Makhluk, termasuk umat islam, tidak tahu tentang gambaran besar skenario Tuhan, dari perjalanan panjang umat manusia. Kemunduran dan keterbelakangan umat islam dinilai sebagai “ujian” atas keimanan, dan kita tidak tahu malapetaka apa yang akan terjadi dibalik kemajuan dan pertumbuhan umat manusia.
Akar teologis pemikiran tradisionalis bersandar pada aliran Ahl al-Sunah wa al-Jama’ah, terutama aliran ‘Asy’ariah, yang juga merujuk kepada aliran jabariyah mengenai predeterminisme (takdir), yakni bahwa manusia harus menerima ketentuan dan rencana Tuhan yang telah dibentuk sebelumnya.
Cara berfikir tradisionalis tidak hanya terdapat di kalangan muslim di pedesaan atau yang diidentikkan dengan NU, tapi sesungguhnya pemikiran tradisionalis terdapat di berbagai organisasi dan berbagai tempat. Banyak diantara mereka yang dalam sector kehidupan sehari-hari menjalani kehidupan yang sangat modern, namun ketika kembali kepada persoalan teologi dan kaitannya dengan usaha manusia, mereka sesungguhnya lebih layak dikategorikan sebagai golongan tradisionalis.

2. Modernis
Dalam masyarakat barat, modernisme mengandung arti pikiran, aliran, gerakan, dan usaha untuk mengubah paham-paham dan institusi-institusi lama untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, modernis lebih mengacu pada dorongan untuk melakukan perubahan karena paham-paham dan institusi-institusi lama dinilai tidak relevan.
Kaum modernis percaya bahwa keterbelakangan umat islam lebih banyak disebabkan oleh kesalahan sikap mental, budaya, atau teologi mereka. Pandangan kaum modernis merujuk pada pemikiran  modernis muktazilah, yang cenderung bersifat antroposentris dengan doktrinnya yang sangat terkenal, yaitu ushul al-khamsah.
Asumsi dasar kaum modernis adalah bahwa keterbelakangan umat islam karena mereka melakukan sakralisasi terhadap semua bidang kehidupan. Asumsi tersebut pada dasarnya sejalan dengan aliran developmentalisme yang beranggapan bahwa kemunduran umat islam terjadi di Indonesia karena mereka tidak mampu berpartisipasi secara aktif di dalam proses pembangunan dan globalisasi. Oleh karena itu, mereka cenderung melihat nilai-nilai sikap mental, kreativitas, budaya dn paham teologi sebagai pokok permasalahan.

3. Revivalis-Fundamentalis
Bagi revivalis, umat islam terbelakang karena mereka justru menggunakan ideologi lain sebagai dasar pijakan daripada menggunakan Al-Qur’an sabagai acuan dasar. Pandangan ini berangkat dari asumsi bahwa Al-Qur’an pada dasarnya telah menyediakan petunjuk secara komplit, jelas dan sempurna sebagai dasar bermasyarakat dan bernegara. Disamping itu, mereka juga memandang ideologi lain sebagai ancaman. Globalisasi dan kapitalisme bagi mereka merupakan salah satu agenda barat dan konsep non-islami yang dipaksakan pada masyarakat muslim. Mereka menolak globalisasi dan kapitalisme karena keduanya dinilai berakar pada paham liberalisme. Karena itulah, mereka juga disebut sebagai kaum fundamentalis; mereka dipinggirkan oleh kaum developmentalis karena dianggap sebagai ancaman bagi kapitalisme. Dengan demikian, revivalis bagi kalangan developmentalis, identik dengan fundamentalis.

4. Transformatif
Gagasan transformatif merupakan alternatif dari ketiga respons umat islam di atas. Mereka percaya bahwa keterbelakangan umat islam disebabkan oleh ketidak adilan system dan struktur ekonomi, politik dan kultur. Oleh karena itu, agenda mereka adalah melakukan transformasi terhadap struktur melalui penciptaan relasi yang secara fundamental baru dan lebih adil dalam bidang ekonomi, politik dan kultur.
Kalangan teologi transformatif pula menyimpulkan bahwa agama dalam proses modernisasi sekarang ini melahirkan tiga corak, yaitu:
Pertama, tampil sebagai alat rasionalisasi atas modernisasi atau modernisme, dengan melahirkan perkembangan teologi rasional yang mengacu pada tumbuhnya kepentingan intelektualisme sekelompok akademikus. Kedua, sebagai alat legitimasi atas nama melancarkan dan mendukung berhasilnya program-program modernisasi. Program-program ini dirancang dan dilaksanakan secara teknokratis berdasarkan paradigma pertumbuhn ekonomi, dan bukan untuk pertumbuhan nilai-nilai dasar pembangunan harkat kemanusiaan sendiri. Dalam konteks seperti ini, konsep teologi yang dominan adalah teologi paralelisme yang bersifat jusdifikatif. Ketiga, kelompok masyarakat tertentu, terutama kaum dhuafa yang tidak terserap dalam dialog besar proses modernisasi dewasa ini, terpaksa menghanyutkan diri dalam impian teologi eskatologis yang bersifat eskapitis. Mereka tidak jarang menunjukkan sikap hidup fatalistis; “bahwa dunia adalah tempat bersinggah untuk minum”, bahwa “dunia hanyalah penjara bagi orang-orang yang beriman dan surga bagi orang-orang kafir”, dan lain sebagainya.
Yang paling penting, bahwa prinsip teologi transformatif itu tidak bersifat ortodoksi dan harus terkait dengan ortopraksis. Ia harus berwatak fasilitatif, dalam arti memberi fasilitas sebagai kerangka bacaan melihat realitas. Juga tidak ada hubungan patronklien dalam membaca kehendak Tuhan.dan mementingkan isi daripada bentuk ungkapan simbolis agama. Serta dengan jelas menuju cita-cita perwujudan masyarakat muttaqin, dengan setiap orang mempunyai derajat yang setara di hadapan kebenaran Allah SWT.

D. Kesimpulan
Demikian kita telah mengetahui tentang beberapa tradisi yang sering dilakukan oleh umat islam di Indonesia dalam kaitannya dengan dunia kontemporer ini. Sekaligus pula mengenai empat respons umat islam dalam dunia kontemporer, yang diantaranya yaitu tradisionalis, modernis, revivalis-fundamentalisme dan transpormatif. Dimana diantara keempat hal tersebut, masing-masing memiliki pandangan yang berbeda dalam memberikan pernyataan tentang islm dan pemeluk agama islam berkaitan dengan dunia kontemporer sat ini. Yang mana didalamnya membahas masalah yang menyebabkan terjadinya keterbelakangan sekaligus ketertinggalan umat islam dalam masalah ilmu pengetahuan dan komunikasi serta globalisasi say ini.












DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Moeslim. 1995. Islam Transpormatif. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Hakim, Atang Abd. 2006. Metodologi Studi Islam. Bandung: Rosda.
Nata, Abuddin. 2009. Metodologi Studi Islam. Jakarta: Rajawali Pers.


[1] Drs. Atang Abd. Hakim, MA. Metodologi Studi Islam, hal: 194


Tidak ada komentar:

Posting Komentar