Selasa, 27 Desember 2011

Tugas Makalah Psikologi Umum (Perasaan dan Emosi)


PERASAAN DAN EMOSI
MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Kelompok  pada Mata Kuliah
Psikologi Umum”





 Disusun oleh Kelompok 7 :
Muhammad Yusuf
Ahmad Khusaeri
Umi Ulfah
Anggi Oktaviani
St. Aisah

 PAI-A / III
FAKULTAS TARBIYAH DAN ADAB
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SULTAN MAULANA HASANUDDIN BANTEN
TAHUN 2011/1433 H

PERASAAN DAN EMOSI
A.    Pendahuluan
      Secara factual, bahwasannya di dalam emosi terkandung perasaan yang di miliki oleh setiap orang. Oleh karena itu pembicaraan tentang emosi dan perasaan tidak pernah lepas dari unsur manusia. Dari beberapa pendapat tentang emosi dan perasaan yang di kemukakan oleh para ahli pada umumnya sepakat bahwa perasaan itu di artikan sebagai keadaan yang di rasakan sedang terjadi dalam diri seseorang dan sedangkan emosi terjadi hanya ketika seseorang merasakan sesuatu terjadi dalam dirinya.
      Pada dasarnya emosi dan perasaan itu keduanya relative sama. Perasaan yang diartikan emosi adalah perasaan yang tidak terkait dengan yang dirasakan fisik. Sedangkan menurut seorang peneliti emosi dari Australia National University, yakni, Anna Wierzbicka, tidak semua budaya memiliki kata untuk emosi sebagaimana yang di konsepkan dalam bahasa Inggris sedangkan kata yang bermakna perasaan (feeling) ada dalam semua bahasa. Menurutnya, kata emosi lebih disukai karena kesannya lebih objektif dan lebih ilmiah dari pada kata perasaan. Oleh sebab itu kata emosi lebih luas digunakan dalam dunia ilmu pengetahuan.

  B. Pengertian Perasaan
Perasaan biasanya didefinisikan sebagai gejala psikis yang bersifat subyektif yang umumnya berhubungan  dengan gejala-gejala mengenal, dan dialami dalam kualitas senang atau tidak senang dalam berbagai taraf.
Berlainan  dengan berfikir, maka perasaan itu bersifat subyektif, banyak dipengaruhi oleh keadaan diri seseorang. Perasaan umumnya bersangkutan dengan fungsi mengenal artinya perasaan dapat timbul karena mengamati, menanggap, menghayalkan, mengingat-ingat, atau memikirkan sesuatu. Kendati pun demikian perasaan bukanlah hanya sekedar  gejala tambahan daripada fungsi pengenalan saja, melainkan adalah fungsi tersendiri.[1]

C. Macam-Macam Perasaan
Bigot telah memberikan ikhtisar mengenai macam-macam perasaan itu yang kiranya sangat berguna sebagai rangka pembicaraan.  Adapun  ikhtisar tersebut adalah  sebagai berikut :
a.       Perasaan-perasaan jasmaniah (rendah)
1)      Perasaan-perasaan indriah, yaitu perasaan-perasaan yang berhubungan dengan perangsangan terhadap pancaindera seperti misalnya, sedap, manis, asin, pahit, panas dan sebagainya.
2)      Perasaan vital, yaitu perasaan-perasaan yang berhubungan dengan keadaan jasmani  pada umumnya, seperti misalnya perasaan-perasaan segar, letih, sehat, lemah, tak berdaya, dan sebagainnya.
b.      Perasaan -perasaan rohaniah :
1)      Perasaan intelektual
Perasaan intelektual ialah perasaan yang bersangkutan dengan kesanggupan intelek (pikiran) dalam menyelesaikan problem-problem yang dihadapi. Misalnya rasa senang yang dialami oleh seseorang yang dapat menyelesaikan soal ujian (perasaan intelektual positif), atau perasaan kecewa yang dialami oleh seseorang yang sama sekali tak dapat ang mengerjakan soal ujian.
2)      Perasaan kesusilaan
Perasaan kesusilaan atau disebut juga perasaan etis ialah perasaan tentang baik buruk. Perasaan kesusilaan itu ada dua macam, yaitu positif dan negatif. Perasaan kesusilaan yang positif misalnya dialami sebagai rasa puas kalau orang telah melakukan hal yang baik, dan yang negatif misalnya dialami sebagai rasa menyesal  kalau orang telah melakukan hal yang tidak baik.
3)      Perasaan keindahan
Perasaan keindahan yaitu perasaan yang menyertai atau yang timbul karena seseorang menghayati sesuatu yang indah atau tidak indah.
4)      Perasaan sosial
Perasaan sosial ialah perasaan yang mengikatkan individu dengan sesama manusia, perasaan hidup bermasyarakat dengan sesama manusia untuk saling bergaul, saling tolong menolong, memberi dan menerima simpati dan antipati, rasa setia kawan,dan sebagainya.
5)      Perasaan harga diri
Perasaan harga diri ini dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu perasaan harga diri yang positif dan perasaan harga diri yang negatif. Perasaan harga diri yang positif misalnya perasaan puas, senang, gembira, bangga. Sedangkan perasaan harga diri negatif misalnya perasaan kecewa, tak senang, tak berdaya, kalau seseorang mendapat celaan, dimarahi, mendapatkan hukuman dan sebagainya.
6)      Perasaan keagamaan
Perasaan keagamaan yaitu perasaan yang bersangkut paut dengan kepercayaan seseorang tentang adanya Yang Maha Kuasa seperti misalnya rasa kagum akan kebesaran Tuhan, rasa syukur setelah lepas dari marabahaya secara ajaib, dan sebagainya.[2]

D. Pengertian Emosi
            Menurut English and English, emosi adalah “A complex feeling state accompained by characteristic motor and glandular activies “ (suatu keadaan yang kompleks yang disertai karakteristik kegiatan kelenjar dan motoris). Sedangkan Sarlito Wirawan Sarwono berpendapat bahwa emosi merupakan “ setiap keadaan  pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pada tingkatan lemah   (dangkal) maupun pada tingkatan yang luas (mendalam)[3]

E. Macam-Macam Emosi
Atas dasar arah aktivitasnya, tingkah laku emosional dapat dibagi menjadi empat  macam, yaitu (1) marah, orang bergerak menentang sumber frustasi; (2) takut, orang bergerak meninggalkan sumber frustasi; (3) cinta, orang bergerak menuju sumber kemenangan; (4) depresi, orang menghentikan respon-respon terbukanya dan  mengalihkan emosi ke dalam dirinya sendiri.
Dari hasil penelitiannya, John B. Watson menemukan bahwa tiga dari keempat emosional tersebut terdapat pada anak-anak, yaitu : takut, marah dan cinta.
1.      Takut
      Pada dasarnya, rasa takut itu bermacam-macam. Ada yang timbul karena seorang anak kecil memang ditakut-takuti atau karena berlakunya berbagai pantangan di rumah. Misalnya saja, rasa takut akan tempat gelap, takut berada di tempat sepi tanpa teman, atau takut menghadapi hal-hal asing yang tidak di kenal. Kengerian-kengerian ini relatif lebih banyak diderita oleh anak-anak daripada orang dewasa. Karena, sebagai insan yang masih muda, tentu saja daya tahan anak-anak belum kuat.[4]
      Jika dilihat dari secara objektif, bisa dikatakan bahwa rasa takut selain mempunyai segi-segi  negatif, yaitu bersifat menggelorakan dan menimbulkan perasaan-perasaanan gejala tubuh yang menegangkan, juga ada segi positifnya.
      Ada beberapa cara untuk mengatasi rasa takut pada anak. Pertama, ciptakanlah suasana kekeluargaan/lingkungan sosial mampu menghadirkan rasa keamanan dan rasa kasih sayang. Kedua, berilah penghargaan terhadap usaha-usaha anak dan pujilah bila perlu. Ketiga, tanamkanlah pada anak bahwa ada kewajiban sosial yang perlu ditaati. Keempat, tumbuhkanlah pada diri anak kepercayaan serta keberanian untuk hidup; jauhkanlah ejekan dan celaan.
2.      Marah
            Pada umumnya, luapan kemarahan lebih sering terlihat pada anak kecil ketimbang rasa takut. Bentuk-bentuk kemarahan yang banyak kita hadapi adalah pada anak yang berumur 4 tahun. Pada anak-anak yang masih kecil, kemarahan bisa ditimbulkan oleh adanya pengekangan yang dipaksakan, gangguan pada gerak-geriknya, hambatan pada kegiatan-kegiatan yang sedang dilakukan, oleh segala sesuatu yang menghalang-halangi keinginan seorang anak.
Dalam sebuah studi yang dilakukan Goodenough, terdapat cukup bukti yang memperlihatkan bahwa anak-anak lebih mudah menjadi marah apabila pada malam sebelumnya mereka tidak cukup beristirahat.
Navaco pula mengemukakan bahwa amarah  “bisa dipahami sebagai reaksi tekanan perasaan”
3.      Cinta
      Apakah cinta ? sesungguhnya betapa sulitnya kita menjelaskan kata yang satu ini. Sama halnya ketika kita harus mendefinisikan ihwal kebahagiaan. Penyair Mesir, Syauqi Bey, melukiskan “cinta” dlam sebuah sajaknya :
Apakah cinta ?
   Mulanya berpandangan mata,
       lantas saling senyum,
          kata berbalas kata,
              dan memadu janji,
       akhirnya bertemu.
Namun, yang digambarkan Syauqi Bey di atas adalah cinta romantis, yaitu cinta waktu pacaran yang kadang-kadang berakhir putus setelah puas bertemu dalam memadu cinta, tidak sampai meningkat ke jenjang pernikahan.
Dalam bukunya The Art of Loving (Seni Mencinta), Erich Fromm sedemikian jauh telah berbicara tentang cinta sebagai alat mengatasi keterpisahaan manusia, sebagai pemenuh kerinduan akan kesatuan. Akan tetapi, di atas kebutuhan eksitensi dan menyeluruh itu, timbul suatu kebutuhan biologis, yang lebih spesifik yaitu keinginan untuk menyatu antara kutub-kutub jantan dan betina. Ide pengutuban ini diungkapkan dengan paling mencolok dalam mitos bahwa pada mulanya laki-laki dan wanita adalah satu, kemudian mereka dipisahkan menjadi setengah-setengah, dan sejak itu sampai seterusnya, setiap lelaki terus mencari belahan wanita yang hilang dari dirinya untuk bersatu kembali dengannya.[5]

F. Ekspresi dan Emosi
Apakah ekspresi itu ? Wullur melukiskan ekspresi sebagai “pernyataan batin seseorang dengan cara berkata, bernyanyi, bergerak, dengan catatan bahwa ekspresi itu selalu tumbuh karena dorongan akan menjelmakan perasaan atau buah pikiran”.
Selanjutnya,  ekspresi itu dapat mengembangkan sifat kreativitas seseorang; dan jika anak sanggup beraktivitas secara kreatif, barulah mereka dapat belajar secara sungguh-sungguh.
Ekspresi,  menurut  Wullur, juga bersifat membersihkan, membereskan (katarsi). Karena itu, ekspresi dapat mencegah timbulnya kejadian-kejadian yang tidak diberi kesempatan untuk menjelmakan perasaannya dan menghadapi perasaannya. Tanpa ekspresi, bahan yang terpendam itu sangat alah membahayakan. Dan terkadang bisa menjadi “letusan kecil”,  misalnya mengamuk, bahkan membunuh. “Letusan” yang lebih besar lagi adalah terjadinya letusan revolusi suatu bangsa yang bertahun-tahun atau berabad-abad tertindas.
Dalam kaitannya dengan emosi, kita dapat membagi ekspresi emosional (emotional exspression) dalam tiga macam, yakni:
(1).Startle Response atau reaksi terkejut
(2). Ekspresi wajah dan suara
(3). Sikap dan gerak tubuh (posture and gesture)
Ekspresi wajah yang menyertai emosi jelas berfungsi mengomunikasikan emosi tersebut. Menurut Atkison, sejak publikasi buku klasik Charles Darwin pada tahun 1872, The Expression of Emotion in Man and Animals, para ahli psikologi bahwa menganggap komunikasi emosi memiliki fungsi penting, yang memiliki kelangsungan hidup bagi spesies.

G. Hubungan antara Perasaan dan Emosi
Menurut  pandangan Dirgagunarsa, perasaan (feeling) mempunyai dua arti. Ditinjau secara fisiologis, perasaan berarti pengindraan, sehingga merupakan salah satu fungsi tubuh untuk mengadakan kontak  dengan dunia luar. Dalam arti psikologis, perasaan mempunyai fungsi menilai, yaitu penilaian terhadap suatu hal. Makna penilaian ini tampak, misalnya, dalam ungkapan berikut: “Saya rasa nanti sore akan  hujan”. Ungkapan itu berarti bahwa menurut penilaian saya, nanti sore hari akan hujan.
Di lain pihak, emosi mempunyai arti yang agak berbeda. Di dalam pengertian emosi sudah terkandung unsur perasaan yang mendalam (intese). Perkataan emosi sendiri berasal dari perkataan “emotus” atau “emovere” yang artinya mencerca (to stir up), yaitu sesuatu yang mendorong terhadap sesuatu.[6]

H. Perbedaan antara Perasaan dan Emosi
Perbedaan antara perasaan dan emosi tidak dapat dinyatakan dengan tegas, karena keduanya merupakan suatu kelangsungan kualitas yang tidak jelas batasnya. Pada suatu saat tertentu, suatu warna efektif dapat dikatakan sebagai perasaan, tetati juga dikatakan sebagai emosi. Oleh karena itu, yang dimaksudkan dengan emosi di sini bukan terbatas pada pada emosi atau perasaan saja, tetapi meliputi setiap keadaan pada setiap diri seseorang yang disertai dengan warna efektif, baik pada tingkat yang lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang kuat (mendalam).[7]
I. Kesimpulan
Berlainan  dengan berfikir, maka perasaan itu bersifat subyektif, banyak dipengaruhi oleh keadaan diri seseorang. Perasaan umumnya bersangkutan dengan fungsi mengenal artinya perasaan dapat timbul karena mengamati, menanggap, menghayalkan, mengingat-ingat, atau memikirkan sesuatu. Kendati pun demikian perasaan bukanlah hanya sekedar  gejala tambahan daripada fungsi pengenalan saja, melainkan adalah fungsi tersendiri.
Adapun macam-macam perasaan tersebut diantaranya yaitu;
a)      Perasaan-perasaan jasmaniah (rendah)
1)      Perasaan-perasaan indriah
2)      Perasaan vital
b)      Perasaan -perasaan rohaniah
1)      Perasaan keagamaan
2)      Perasaan intelektual
3)      Perasaan kesusilaan
4)      Perasaan keindahan
5)      Perasaan sosial
6)      Perasaan harga diri
Emosi adalah suatu keadaan yang komplek yang disertai karakteristik kegiatan kelenjar yang motoris.  Dan perasaan didefinisikan sebagai gejala psikis yang bersifat subyektif yang umumnya berhubungan dengan gejala-gejala mengenal, dan dialami dalam kualitas senang atau tidak senang dalam berbagai taraf. Atas dasar arah aktivitasnya, tingkah laku emosional dapat dibagi menjadi empat  macam, yaitu; marah, takut, cinta dan depresi.
Dalam kaitannya dengan emosi, kita dapat membagi ekspresi emosional (emotional exspression) dalam tiga macam, yakni:
(1).Startle Response atau reaksi terkejut
(2). Ekspresi wajah dan suara
(3). Sikap dan gerak tubuh (posture and gesture)
DAFTAR PUSTAKA
Fauzi Ahmad, Psikologi Umum, Bandung: Pustaka Setia, 2004.
Sobur Alex, Psikologi Umum, Bandung: Pustaka Setia, 2003.
Suryabrata Sumadi, Psikologi Pendidikan, Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 1998.
Yusuf Syamsu, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: PT Remaja Rosda Karya , 2006.



[1] Sumadi Suryabrata. Psikologi Pendidikan. (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada. 1998) h. 66
[2]  Sumadi Suryabrata, ibid 66-69.
[3] Syamsu Yusuf. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja (Bandung: PT Remaja Rosda Karya. 2006) h. 114-115.
[4] Alex Sobur. Psikologi Umum (Bandung: Pustaka Setia. 2003) h. 114-115
[5] Alex Sobur, Ibid, h. 410-419.
[6]  Alex Sobur,. Ibid, h. 424-427.
[7]  Ahmad Fauzi. Psikologi umum. (Bandung: Pustaka Setia. 2004). h. 54.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar