Selasa, 13 Desember 2011

Mengenai Filsafat Islam di Dunia Islam Timur (Al-Kindi, Ibnu Miskawaih, Ar-Raza, Al-Farabi dan Al-Ghazali)


FILSAFAT ISLAM DI DUNIA ISLAM TIMUR (AL-KINDI, IBNU MISKAWAIH, AR-RAZI, AL-FARABI, AL-GHOZALI ) 


AL-KINDI

AL-KINDI (185 H/801 M -260 H/873 M) beliau adalah filsuf yang pertama munculdi islam. Dalam buku History of Muslim philosophy, Al- kindi juga disebut sebagai “Ahli filsafat Arab”.Ia adalah keturunan bangsawan Arab dari suku Kindah, suku yang dimasa sebelum islam bermukim di Arab Selatan.
Nama lengkap Al-Kindi adalah Abu Yusuf Ya’qub bin Ishak ibn Sabbah ibn Imran ibn Ismail bin Muhammad bin Al-Ash’ats bin Qais Al-Kindi. Ayahnya adalah gubernur Basrah pada masa pemerintahan khalifah Abbasiyah,Al-Hadi (169-170 H /785-786 M ) dan Harun Ar-Rasyid (170-194 H / 786-809 M ).Al-Kindi di lahirkan di Kufah.Ia memperoleh pendidikan masa kecilnya di Basrah, tetapi tumbuh, dewasa dan meninggla di Baghdad.Di Baghdad ia terlibat dalam gerakan penerjemahan dan cukup memiliki harta untuk menggaji banyak orang untuk menerjemahkan dan menyalin naskah-naskah ilmu pengetahuan dan filsafat utnuk melengkapi perpustakaan miliknya.
Unsur-unsur filasafat yang didapati pada pemikiran Al-Kindi adalah
1. Aliran phytagoras tentang matematika sebagai jalan ke arah filasafat.
2. Pikiran-pikiran Aristoteles dalam soal-soal fisika dan metafisika, meskipun Al-kindi tidak sependapat dengan aristoteles tentang Qodim-nya alam
3. Pikiran-pikiran plato dalam soal kejiwaan
4. Pikiran-pikiran plato dan Aristoteles bersama-sama dalam soal etika.
5. Wahyu dan iman dalam hal yang berhubungan dengan Tuhan dan sifa-sifatNya
6. Aliran Mu’tazilah dalam memuja kekuatan akal manusia dan dalam menakilkan ayat-ayat Al Quran.


FILSAFAT AL-KINDI

Ia mengatakan bahwa filasafat adalah ilmu yang termulia serta terbaik dan yang tidak bias di tinggalkan oleh setiap orang yang berpikir.Kata-kata ini di tujukan kepada mereka yang menentang adanya filsafat dan mengingkarinya karena mereka menganggap sebagai ilmu kafir dan menyiapkan jalan kepada kekafiran.sikap inilah yang selalu mereka jadikan rintangan bagi filsuf-filsuf islam, terutama pada masa ibn Rusyd.
Al-Kindi meninjau filsafat dari dalam dan dari luar. Dengan tunjauan dari dalam ia bermaksud untuk mengikuti pendapat-pendapat filsuf besar tentang arti kata filsafat. Dan dalam risalahnya yang khusus membahas tentang definisi filsafat ia menyebutkan enam definisi yang kebnyakan bercoran platonisme.
Menurut Al-Kindi, filsafat ialah ilmu tentang hakikat ( kebenaran ) sesuatu menurut kesanggupan manusia, ilmu ketuhanan, ilmu keesaan ( wahdaniyah ), ilmu keutamaan ( fadhilah ), ilmu tentang semua yang berguna dan cara memperolehnya 0serta cara menjauhi perkara-perkara yang merugikan. Jadi , tujuan filsuf bersifat teori, yaitu mengetahui kebenaran, dan bersifat amalan, yaitu mewujudkan kebenaran tersebut dengan tindakan. Semakin dekat dengan kebenaran , maka semakin dekat pula pada kesempurnaan.

KARYA-KARYA AL-KINDI

Dalam tulisan Ahmad Hanafi, jumlah karangan Al-Kindi sukar di tentukan, karena dua sebab. Pertama, penulis-penulis biografi tidak sepakat penuturannya tentang jumlah karangannya. Ibn An-Nadim dan Al-Qafthi menyebut 283 karangan pendek dan Sha’id Al-Andalusi menyebutkan 50 karangan, sedangkan sebagian dari karangan tersebut telah hilang musnah. Kedua, diantara karangannya yang sampai kepada mereka, ada yang memuat karangan-karangan lain.
Isi karangan tersebut bermacam-macam, antara lain filsafat, logika, musik, aritmatika, dan lain-lain.Al-Kindi tidak mempersoalkan filsafat yang rumit dan yang telah dibahas sebelumnya, tetapi ia lebih tertarik dengan definisi dan penjelasan kata, dan lebih mengutamakan ketelitian pemakaian kata daripada medalami persoalan yang ada pada filsafat.
Di bawah ini beberapa karya al-Kindi, baik yang di tulis sendiri maupun ditulis ulang oleh penulis lainnya. Di anataranya :
1. Kitab Kimia ‘Al-Itr (Book of the Chemistry of Perfume )
2. Kitab fi isti’mal Al-Adaad Al-Hindi ( On the Use of Indian numerals )
3. Risalaha fi I-illa Al-Failali I-Maad wal-Fzr (treatise on the efficient cause of the Flow and Ebb )
4. Kitab Ash-Shu ‘a’at (Book of the Rays )
5. The Medicial Formulary of Aqrabbadhin of Al-Kindi, by M. Levey (1966)
6. A-Kindi’s Metaphyrcs: a translation of yaqub ibn Ishak al-kindi;s treatise “On First Philosophy” (fi Al-falsafah al-ula),by Alfred L. Ivry
7. Scientific Weather Forecastingin the Middle Ages the Writings of Al-kindi,by Gerrit Bos and Charles Burnet (2000)
8. Al-Kindi’s treatise on Cryptanalysis,by M.Mrayati, Y.Meer Alam and M.H.At-tayyan (2003)


AR-RAZI

Filsuf muslim terkemuka yang muncul setelah Al-Kindi adalah Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Ar-Razi dikenal sebagai dokter, filsuf, kimiawan, dan pemikir bebas (250-313 H/864-925 M atau 320 H/932 M ), oleh orang latin di panggil Rhazes.Ia di lahirkan di Rayy, dekat Teheran sekarang.Menurut riwayat, ia menguasai betul imusik, baik teori maupun praktek, dan dikatakan sebagai ahli kimia sebelum belajar formalnya di bidang kedokteran. Ia memimpin rumah sakit di Rayy kemudian ke Baghdad, dan sering pula ke Rayy, tempat ia meninggal. Rumahnya yang besar di Rayy dan di tempat lain di distrik Jibal Kaspia Selatan maenggambarkan bahwa ia seorang yang kaya.



KARYA-KARYA AR-RAZI

Buku0buku Ar-Razi menurut ibn An-Nadim adalah 118 buku,19 surat, 4 buku, 6 surat, dan satu makalah, jumlahnya 148 buah.ibn Abi Asaibi’ah menyebutkan 236 karya,tetapi beberapa diantaranya tidak jelas pengarangnya.
Menurut Al-biruni, ada sekitar dua puluh satu karya Ar-Razi tentang alkemi, yang terbesar diantaranya adalah Kitab Sirr Al-Asrar. Sesuai dengan semangatnya yang antihermetis, rahasia-rahasia disini bukan merupakan misteri-misteri mistik, melainkan rahasia-rahasia tentang ahli alkemis, yang dengan bebas dipaparkan oleh Ar-Razi dalam pembahsannya mengenai bahan-bahan, perangkat-perangkat, dan metode alkemi itu. Tujuannya adalah meretas batas-batas yang memilahkan satu bentuk sebstansi dari substansi lainnya, dengan menggunakan substansi kuat yang akan menembus dan mengubah unsur dasar,dengan menambahkan atau menghilangkan sifat spesifik, mengubah logam dasar menjadi emas dan permata.

Filsafatnya Ar-Razi

¯ Logika

Ar-Razi adalah seorang rasionalisme murni, dan beliau hanya mempercayai khekuatan akal. Bahkan didalam bidang kedokteran study klinis yang dilakukannya setelah menemukan metode yang kuat dengan berpijak kepada observasi dan eksperimen.

Bahkan pemujaan Ar-Razi terhadap akal tampak sangat jelas pada halaman pertama pada bukunya At-Thibb. Beliau mengatakan, Allah segala puji baginya, yang telah memberikan akal agar dengan-Nya kita dapat memperoleh sebnyak-banyaknya manfaat. Inilah karunia terbaik Allah kepada kita. Akal adalah suatu yang mulia dan penting karena dengan akal kita dapat memperoleh pengetahuan tewntang tuhan. Maka tidak boleh melecehkannya.

¯ Moral

Adapun pemikiran Ar-Razi tentang moral sebagaimana tertuang dalam buku At-Thibb al-ruhani dan Al-Sirah al-Falsafiyyah, bahwa tingkah laku itu berdasarkan dari akal. Hawa nafsu harus berada dibawah kendali akal dan agama. Beliau memperingatkan bahaya minuman khomr yang dapat merusakkan akal dan melanggar agama.

Berkaitan dengan jiwa, Ar-Razi menjadikan jiwa sebagai salah satu alasan pengobatan baginya. Menurutnya antara tubuh dan jiwa terhadap suatu hubungan yang sangat erat, misalnya: emosi jiwa tidak akan terjadi kecuali dengan melalui pengamatan indrawi.

Sedangkan kebahagiaan menurut Ar-Razi adalah kembalinya apa yang telah tersingkir karena sesuatu yang berbahaya, misalnya: orang yang meninggalkan tempat yang teduh menuju tempat yang disinari matahari. Ia akan senang ketika kembali ke tempat yang teduh tadi.

¯ Kenabian/ Theologi

Ar-Razi menyangkah bahwa anggapan bentuk kehidupan manusia memerlukan nabi sebagaimana yang dikatakannya dalam bukunya Naqd al-Adyan au fi al-Nubuwah. Beliau mengatakan bahwa beliau tidak percaya kepada wahyu dan adanya nabi. Menurutnya para nabi tidak berhak mengklaim dirinya sebagai orang yang memiliki keistimewaan khusus. Karena semua orang adalah sama dan keadilan tuhan secara hikmahnya mengharuskan tidak membedakan antara seoranng dengan yang lainnya.

Ar-Razi juga mengritik kitab suci baik injil maupun al-quran. Beliau menolak mukjizat al-quran baik segi isi maupun gaya bahasanya. Menurutnya orang mungkin saja dapat menulis kitab yang lebih baik dengan gaya, bahasa yang lebih indah. Kendatipun demikian, Ar-Razi tidak berati seorang atheis, karena beliau masih menyakini adanya Allah.

¯ Metafisika

Filsafat Ar-Razi dikenal dengan ajaran “Lima kekal” yaitu:

v Allah Ta’ala

v Ruh Universal

v Materi pertama

v Ruang absolute

v Masa absolute

Berikut ini uraian singkat mengenai “Lima kekal” yaitu:

1. Allah Ta’ala

Allah bersifat sempurna. Tidak ada kebijakan setelah tidak sengaja, karena itu ketidak sengajaan tidak bersifat kepada-Nya.

Kehidupan berasal dari-Nya sebagaimana sinar datang dari matahari Allah mempunyai kepandaian yang sempurna dan murni. Kehidupan ini adalah mengalir dari ruh. Allah menciptakan sesuatu dan tidak ada yang bisa yang menandingi dan tidak ada yang bisa menolak kepada-Nya. Allah Maha Mengetahui, segala sesuatu. Tetapi ruh-ruh hanya mengetahui apa yang berasal dari eksperimen. Tuhan mengetahui bahwa ruh cenderung pada materi dan membutuhkan kesenangan materi.

2. Ruh

Allah tidak menciptakan dunia lewat desakan apapun tetapi Allah memutuskan penciptaan-Nya setelah pada mulanya tidak berkehendak tidak menciptakannya, Allah menciptakan manusia guna menyadarkan ruh dan menunnjukkan kepadanya, bahwa dunia ini bukanlah dunia yang sebenarnya dalam arti haqiqi.

Manusia tidak akan mencapai dunia haqiqi ini, kecuali dengan filsafat, mereka mempelajari filsafat, mengetahui dunia haqiqi, memperoleh pengetahuan akan selamat dari keadaan buruknya. Ruh-ruh tetap berada dalam dunia ini sampai mereka disadarkan oleh filsafat akan rahasia dirinya.

Melalui filsafat manusia dapat memperoleh dunia yang sebenarnya, dunia sejati atau dunia haqiqi.

3. Materi

Menurut Ar-Razi kemutlakan, materi pertama terdiri dari atom-atom, setiap atom mempunyai volum yang dapat dibentuk. Dan apabila dunia ini dihancurkan, maka ia akan terpisah-pisah dalam bentuk atom-atom. Dengan demikian materi berasal dari kekekalan, karena tidak mungkin menyatakan suatu yang berasal dari ketiadaan sesuatu.

Untuk memperkuat pendapat ini Ar-Razi memberikan 2 bukti yaitu:

Ø Penciptaan adalah bukti dengan adanya sang pencipta.

Ø Berlandaskan ketidak mungkinan penciptaan dan ketiadaan.

4. Ruang

Menurut Ar-Razi ruang adalah tempat keadaan materi, beliau mengatakan bahwa materi adalah kekal dan karena materi itu mempunyai ruang yang kekal.

Bagi Ar-Razi ruang terbagi menjadi 2 yakni waktu universal (mutlak) dan waktu tertentu (relatif ), ruang universal adalah tidak terbatas dan tidak tergantung kepada dunia dan segala sesuatu yang ada didalamnya. Sedangkan ruang yang relatif adalah sebaliknya.

5. Waktu

Adalah subtasi yang mengalir, ia adalah kekal. Ar-Razi membagi waktu 2 macam yakni waktu mutlak dan waktu relatif (terbatas). Waktu mutlak adalah keberlangsungan, ia kekal dan bergerak. Sedang gerak relatif adalah gerak lingkungan-lingkungan, matahari dan bintang gemintang.

BIOGRAFI DAN KARYA IBNU MISKAWAIH

Nama lengkap Ibnu Miskawaih adalah Abu Ali Ahmad bin Muhammad bin Yaqub ibn Miskawaih. Ia lahir di kota Ray (Iran) pada 320 H (932) M) dan wafat di Asfahan 9 Safar 421 H (16 Februari 1030 M). Ia belajar sejarah dan filsafat, serta pernah menjadi khazin (pustakawan) Ibn al-‘Abid dimana dia dapat menuntut ilmu dan memperoleh banyak hal positif berkat pergaulannya dengan kaum elit. Setelah itu Ibnu Miskawaih meninggalkan Ray menuju Bagdad dan mengabdi kepada istana Pangeran Buwaihi sebagai bendaharawan dan beberapa jabatan lain. Akhir hidupnya banyak dicurahkannya untuk studi dan menulis.


Ibnu Miskawaih lebih dikenal sebagai filsuf akhlak (etika) walaupun perhatiannya luas meliputi ilmu-ilmu yang lain seperti kedokteran, bahasa, sastra, dan sejarah. Bahkan dalam literatur filsafat Islam, tampaknya hanya Ibnu Miskawaih inilah satu-satunya tokoh filsafat akhlak.

Ibnu Miskawaih meninggalkan banyak karya penting, misalnya tahdzibul akhlaq (kesempurnaan akhlak), tartib as-sa’adah (tentang akhlak dan politik), al-siyar (tentang tingkah laku kehidupan), dan jawidan khirad (koleksi ungkapan bijak).

B. FILSAFATNYA

Ibnu Miskawaih menggunakan metode eklektik dalam menyusun filsafatnya, yaitu dengan memadukan berbagai pemikiran-pemikiran sebelumnya dari Plato, Aristoteles, Plotinus, dan doktrin Islam. Namun karena inilah mungkin yang membuat filsafatnya kurang orisinal. Dalam bidang-bidang berikut ini tampak bahwa Ibnu Miskawaih hanya mengambil dari pemikiran-pemikiran yang sudah dikembangkan sebelumnya oleh filsuf lain.

1. Metafisika

Menurut Ibnu Miskawaih Tuhan adalah zat yang tidak berjisim, azali, dan pencipta. Tuhan esa dalam segala aspek, tidak terbagi-bagi dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya. Tuhan ada tanpa diadakan dan ada-Nya tidak tergantung pada yang lain sedangkan yang lain membutuhkannya. Tuhan dapat dikenal dengan proposisi negatif karena memakai proposisi positif berarti menyamakan-Nya dengan alam.

Tentang penciptaan yang banyak (alam) oleh yang satu (Tuhan), Ibnu Miskawaih menganut paham emanasi Neo-Platonisme sebagaimana halnya Al-Farabi. Tetapi dalam perumusannya terdapat perbedaan dengan Al-Farabi, yaitu bahwa menurut Ibnu Miskawaih, entitas pertama yang memancar dari Tuhan adalah ‘aql fa’al (akal aktif). Dalam teori Al-Farabi akal aktif ini menempati tahap pemancaran ke sepuluh (akal 10). Akal aktif ini bersifat kekal, sempurna, dan tidak berubah. Dari akal ini timbul jiwa dan dengan perantaraan jiwa timbul planet (al-falak). Pancaran yang terus-menerus dari Tuhan dapat memelihara tatanan di alam ini, menghasilkan materi-materi baru. Sekiranya pancaran Tuhan yang dimaksud berhenti, maka berakhirlah kehidupan dunia ini.

Diambilnya teori emanasi ini dimaksudkan untuk mensucikan ke-esaan Tuhan dari sifat banyak. Ibnu Miskawaih mengatakan, bilamana satu penyebab melahirkan sejumlah efek yang berlainan, maka kemajemukannya kiranya tergantung pada alasan-alasan di bawah ini:

a. Penyebab bisa mempunyai bermacam-macam kekuatan.
b. Penyebab bisa menggunakan berbagai sarana untuk menghasilkan keanekaragaman efek.
c. Penyebab bisa menghasilkan keanekaragaman materi.

Tak satu pun pernyataan di atas berlaku untuk penyebab utama, yaitu Tuhan. Tuhan tidak mungkin dalam zatnya mempunyai bermacam-macam kekuatan yang berlainan. Jika Tuhan menggunakan berbagai sarana, seperti manusia menciptakan kursi dengan berbagai sarana seperti kayu, paku, gergaji, dan sebagainya, maka siapakah yang menciptakan sarana-sarana itu? Jika sarana-sarana itu diciptakan oleh penyebab yang selain Tuhan, berarti ada pluralitas penyebab utama. Pernyataan ketiga pun tidak mungkin bagi Tuhan, karena yang banyak tidak dapat mengalir dari tindak satu agen penyebab. Karena itu pastilah bahwa penyebab utama hanya menciptakan satu entitas yang darinya kemudian tercipta entitas-entitas yang lain. Entitas itulah yang disebut akal aktif.

Ibnu Miskawaih juga mengemukakan teori evolusi makhluk hidup yang secara mendasar sama dengan Ikhwan al-Shafa’. Teori itu terdiri atas empat tahapan:

1. Evolusi mineral; yaitu bentuk kehidupan yang dihuni makhluk-makhluk rendah. Misal batu, air, tanah.
2. Evolusi tumbuhan; yang mula-mula muncul adalah rerumputan spontan, kemudian tanaman, lalu pepohonan tingkat tinggi.
Di antara tumbuhan dan hewan terdapat satu bentuk kehidupan tertentu. yang tidak dapat digolongkan tumbuhan maupun hewan, namun memiliki ciri-ciri tumbuhan dan hewan, yaitu koral, dan euglena.
3. Evolusi hewan; dicirikan antara lain oleh adanya daya gerak dan indera peraba dan pada hewan yang lebih tinggi mulai adanya inteligensi. Hewan paling tinggi adalah kera.
4. Evolusi manusia; ditandai oleh adanya inteligensi dan daya pemahaman.

2. Kenabian

Ibnu Miskawaih berpendapat bahwa Nabi tidaklah berbeda dengan filsuf dalam hal bahwa kedua-duanya memperoleh kebenaran yang sama. Hanya cara memperolehnya yang berbeda; Nabi memperoleh kebenaran melalui wahyu, jadi dari atas (akal aktif) ke bawah; filsuf memperoleh kebenaran dari bawah ke atas, yaitu dari daya inderawi lalu daya khayal lalu daya pikir sehingga dapat berhubungan dan menangkap hakikat-hakikat kebenaran dari akal aktif. Sumber kebenarannya sama-sama akal aktif.

3. Jiwa

Jiwa menurut Ibnu Miskawaih adalah substansi ruhani yang kekal, tidak hancur dengan kematian jasad. Kebahagiaan dan kesengsaraan di akhirat nanti hanya dialami oleh jiwa. Jiwa bersifat immateri karena itu berbeda dengan jasad yang bersifat materi. Mengenai perbedaan jiwa dengan jasad Ibnu Miskawaih mengemukakan argumen-argumen sebagai berikut:

a. Indera, setelah mempersepsi suatu rangsangan yang kuat selama beberapa waktu, tidak mampu lagi mempersepsi rangsangan yang lebih lemah, sedangkan aksi mental dan kognisi tidak.
b. kita sering memejamkan mata jika sedang merenungkan suatu hal yang musykil. Suatu bukti bahwa indera tidak dibutuhkan waktu itu.
c. mempersepsi rangsangan yang kuat merugikan indera, tetapi intelek bisa berkembang dan menjadi kuat dengan mengetahui ide dan paham-paham umum.
d. kelemahan fisik yang disebabkan usia tua tidak mempengaruhi kekuatan mental.
e. jiwa dapat memahami proposisi-proposisi tertentu yang tidak berkaitan dengan dengan data-data inderawi.
f. ada suatu kekuatan di dalam diri kita yang mengatur organ-organ fisik, membetulkan kesalahan-kesalahan inderawi, dan menyatukan pengetahuan.

Jiwa memiliki tiga daya, yaitu daya berpikir, daya keberanian, dan daya keinginan. Tiga daya itu masing-masing melahirkan sifat kebajikan. Yaitu hikmah, keberanian, dan kesederhanaan. Keselarasan ketiga kebajikan tersebut akan menghasilkan kebajikan keempat, yaitu adil. Hikmah ada tujuh macam; tajam dalam berpikir, cekatan berpikir, jelas dalam pemahaman, kapasitas yang cukup, teliti melihat perbedaan, kuat ingatan, dan mampu mengungkapkan. Keberanian ada sebelas sifat; murah hati, sabar, mulia, teguh, tentram, agung, gagah, keras keinginan, ramah, bersemangat, dan belas kasih. Kesederhanaan ada dua belas; malu, ramah, keadilan, damai, kendali diri, sabar, rela, tenang, saleh, tertib, jujur, dan merdeka.

3. Moral/Etika

Dalam bidang inilah Ibnu Miskawaih banyak disorot dikarenakan langkanya filsuf Islam yang membahas bidang ini. Secara praktek etika sebenarnya sudah berkembang di dunia Islam, terutama karena Islam sendiri sarat berisi ajaran tentang akhlak. Bahkan tujuan diutusnya Nabi Muhammad Saw adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Ibnu Miskawaih mencoba menaikkan taraf kajian etika dari praktis ke teoritis-filosofis, namun dia tidak sepenuhnya meninggalkan aspek praktis.

Moral, etika atau akhlak menurut Ibnu Miskawaih adalah sikap mental yang mengandung daya dorong untuk berbuat tanpa berpikir dan pertimbangan. Sikap mental terbagi dua, yaitu yang berasal dari watak dan yang berasal dari kebiasan dan latihan. Akhlak yang berasal dari watak jarang menghasilkan akhlak yang terpuji; kebanyakan akhlak yang jelek. Sedangkan latihan dan pembiasaan lebih dapat menghasilkan akhlak yang terpuji. Karena itu Ibnu Miskawaih sangat menekankan pentingnya pendidikan untuk membentuk akhlak yang baik. Dia memberikan perhatian penting pada masa kanak-kanak, yang menurutnya merupakan mata rantai antara jiwa hewan dengan jiwa manusia.

Masalah pokok yang dibicarakan dalam kajian akhlak adalah kebaikan (al-khair), kebahagiaan (al-sa’adah), dan keutamaan (al-fadhilah). Kebaikan adalah suatu keadaan dimana kita sampai kepada batas akhir dan kesempurnaan wujud. Kebaikan ada dua, yaitu kebaikan umum dan kebaikan khusus. Kebaikan umum adalah kebaikan bagi seluruh manusia dalam kedudukannya sebagai manusia, atau dengan kata lain ukuran-ukuran kebaikan yang disepakati oleh seluruh manusia. Kebaikan khusus adalah kebaikan bagi seseorang secara pribadi. Kebaikan yang kedua inilah yang disebut kebahagiaan. Karena itu dapat dikatakan bahwa kebahagiaan itu berbeda-beda bagi tiap orang.

Ada dua pandangan pokok tentang kebahagiaan. Yang pertama diwakili oleh Plato yang mengatakan bahwa hanya jiwalah yang mengalami kebahagiaan. Karena itu selama manusia masih berhubungan dengan badan ia tidak akan memperoleh kebahagiaan. Pandangan kedua dipelopori oleh Aristoteles, yang mengatakan bahwa kebahagiaan dapat dinikmati di dunia walaupun jiwanya masih terkait dengan badan.

Ibnu Miskawah mencoba mengompromikan kedua pandangan yang berlawanan itu. Menurutnya, karena pada diri manusia ada dua unsur, yaitu jiwa dan badan, maka kebahagiaan meliputi keduanya. Hanya kebahagiaan badan lebih rendah tingkatnya dan tidak abadi sifatnya jika dibandingkan dengan kebahagiaan jiwa. Kebahagiaan yang bersifat benda mengandung kepedihan dan penyesalan, serta menghambat perkembangan jiwanya menuju ke hadirat Allah. Kebahagiaan jiwa merupakan kebahagiaan yang sempurna yang mampu mengantar manusia menuju berderajat malaikat.

Tentang keutamaan Ibnu Miskawaih berpendapat bahwa asas semua keutamaan adalah cinta kepada semua manusia. Tanpa cinta yang demikian, suatu masyarakat tidak mungkin ditegakkan. Ibnu Miskawaih memandang sikap uzlah (memencilkan diri dari masyarakat) sebagai mementingkan diri sendiri. Uzlah tidak dapat mengubah masyarakat menjadi baik walaupun orang yang uzlah itu baik. Karena itu dapat dikatakan bahwa pandangan Ibnu Miskawaih tentang akhlak adalah akhlak manusia dalam konteks masyarakat.

Ibnu Miskawaih juga mengemukakan tentang penyakit-penyakit moral. Di antaranya adalah rasa takut, terutama takut mati, dan rasa sedih. Kedua penyakit itu paling baik jika diobati dengan filsafat.

5. Sejarah

Sejarah merupakan pencerminan struktur politik dan ekonomi masyarakat pada masa tertentu, atau dengan kata lain merupakan rekaman tentang pasang-surut kebudayaan suatu bangsa. Sejarah tidak hanya mengumpulkan kenyataan-kenyataan yang telah lampau tetapi juga menentukan bentuk yang akan datang.

Demikianlah sekadar pengantar kepada pemikiran filsafat Ibnu Miskawaih.

AL FARABI
Second teacher alias mahaguru kedua. Begitulah Peter Adamson pengajar filsafat di King’s College London, Inggris, menjuluki Al-Farabi sebagai pemikir besar Muslim pada abad pertengahan. Dedikasi dan pengabdiannya dalam filsafat dan ilmu pengetahuan telah membuatnya didaulat sebagai guru kedua setelah Aristoteles: pemikir besar zaman Yunani.

Sosok dan pemikiran Al-Farabi hingga kini tetap menjadi perhatian dunia. Dialah filosof Islam pertama yang berhasil mempertalikan serta menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan Islam. Sehingga, bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu. Pemikirannya begitu berpengaruh besar terhadap dunia Barat.

”Ilmu Logika Al-Farabi memiliki pengaruh yang besar bagi para pemikir Eropa,” ujar Carra de Vaux. Tak heran, bila para intelektual merasa berutang budi kepada Al-Farabi atas ilmu pengetahuan yang telah dihasilkannya. Pemikiran sang mahaguru kedua itu juga begitu kental mempengaruhi pikiran-pikiran Ibnu Sina dan Ibnu Rush. Al-Farabi atau Barat mengenalnya dengan sebutan Alpharabius memiliki nama lengkap Abu Nasr Muhammad ibn al-Farakh al-Farabi.

Tak seperti Ibnu Khaldun yang sempat menulis autobiografi, Al-Farabi tidak menulis autobiografi dirinya.

Tak ada pula sahabatnya yang mengabadikan latar belakang hidup sang legenda itu, sebagaimana Al-Juzjani mencatat jejak perjalanan hidup gurunya Ibnu Sina. Tak heran, bila muncul beragam versi mengenai asal-muasal Al-Farabi. Ahli sejarah Arab pada abad pertengahan, Ibnu Abi Osaybe’a, menyebutkan bahwa ayah Al-Farabi berasal dari Persia. Mohammad Ibnu Mahmud Al-Sahruzi juga menyatakan Al-Farabi berasal dari sebuah keluarga Persia.

Namun, menurut Ibn Al-Nadim, Al-Farabi berasal dari Faryab di Khurasan. Faryab adalah nama sebuah provinsi di Afganistan. Keterangan itu diperoleh oleh Al-Nadim dari temannya bernama Yahya ibn Adi yang dikenal sebagai murid terdekat Al-Farabi. Sejumlah ahli sejarah dari Barat, salah satunya Peter J King juga menyatakan Al-Farabi berasal dari Persia. Berbeda dengan pendapat para ahli di atas, ahli sejarah abad pertengahan, Ibnu Khallekan, mengklaim bahwa Al-Farabi lahir di sebuah desa kecil bernama Wasij di dekat Farab ( sekarang Otrar berada di Kazakhstan). Konon, ayahnya berasal dari Turki. Menurut Encyclopaedia Britannica, Al-Farabi juga berasal dari Turki atau Turki Seljuk.

Konon, Al-Farabi lahir sekitar tahun 870 M. Ia menghabiskan masa kanak-kanaknya di Farab. Di kota yang didominasi pengikut mazhab Syafi’iyah itulah Al-Farabi menempuh pendidikan dasarnya. Sejak belia, Al-Farabi sudah dikenal berotak encer alias sangat cerdas. Ia juga memiliki bakat yang begitu besar untuk menguasai hampir setiap subyek yang dipelajari. Setelah menyelesaikan studi dasarnya, Al-Farabi hijrah ke Bukhara untuk mempelajari ilmu fikih dan ilmu-ilmu lainnya. Ketika itu, Bukhara merupakan ibu kota dan pusat intelektual serta religius Dinasti Samaniyah yang menganggap dirinya sebagai bangsa Persia. Saat itu Bukhara dipimpin Nashr ibn Ahmad (874-892). Pada masa itulah Al-Farabi mulai berkenalan dengan bahasa dan budaya serta filsafat Persia. Di kota lautan pengetahuan itu pula Al-Farabi muda mengenal dan mempelajari musik. 936.

Dia sempat menjadi seorang qadhi. Setelah melepaskan jabatan qadhi-nya, Al-Farabi hijrah ke Merv untuk mendalami logika Aristotelian serta filsafat. Guru utama filsafatnya adalah Yuhanna ibn Hailan, seorang Kristen. Dari Ibnu Hailan-lah dia mulai bisa membaca teks-teks dasar logika Aristotelian, termasuk Analitica Posteriora yang belum pernah dipelajari seorang Muslim pun sebelumnya.

Beberapa tahun sebelum kitab-kitab Aristoteles diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Al-Farabi telah menguasai bahasa Syria dan Yunani. Pada 901 M, bersama sang guru, Al-Farabi dia mengembara ke Baghdad yang saat itu menjadi kota metropolis intelektual pada abad pertengahan. Ketika kekhalifahan Al-Muqtadir (908-932), berkuasa, Al-Farabi sempat pula pergi ke Konstantinopel untuk memperdalam filsafat dan singgah di Harran. Ketika 910-920 M, Al-Farabi kembali ke Baghdad. Di negeri 1001 malam itu, dia terus mengembangkan ketertarikannya untuk menggali dan mempelajari alam semesta dan manusia. Ketertarikannya pada dua hal itu membuatnya tertarik untuk menggali filsafat kuno terutama filsafat Plato dan Aristoteles.

Dengan otaknya yang cemerlang, Al-Farabi membuat terobosan untuk menggabungkan filsafat Platonik dan Aristotelian dengan pengetahuan mengenai Alquran serta beragam ilmu lainnya. Beruntung Al-Farabi bisa menimba ilmu dari sejumlah guru yang mumpuni. Ia belajar filsafat Aristoteles dan logika langsung dari seorang filosof termasyhur Abu Bishr Matta ibnu Yunus. Dalam waktu yang tak terlalu lama, kecemerlangan pemikiran Al-Farabi mampu mengatasi reputasi gurunya dalam bidang logika. Sedangkan tata bahasa Arab di pelajarinya dari seorang pakar tata bahasa dan linguistik kondang bernama Abu Bakr ibn Saraj. Selain menguasai filsafat dan bahasa, Al-Farabi juga dikenal sebagai ilmuwan yang berjasa dan memberi kontribusi dalam berbagai bidang ilmu seperti, aritmatika, fisika, kimia, medis, astronomi, dan musik.

Akhir tahun 942 M, hengkang dari Baghdad ke Damaskus, karena situasi politik yang memburuk. Selama dua tahun tinggal di Damaskus, pada siang hari Al-Farabi bekerja sebagai penjaga kebun. Sedangkan pada malam hari dia membaca dan menulis karya-karya filsafat. Ia sempat pula hijrah ke Mesir dan lalu kembali lagi ke Damaskus pada 949 M. Ketika tinggal di Damaskus untuk yang kedua kalinya, Al-Farabi mendapat perlindungan dari putra mahkota penguasa baru Siria, Saif al-Daulah. Saif al-Daulah sangat terkesan dengan Al-Farabi karena kemampuannya dalam bidang filsafat, bakat musiknya serta penguasaannya atas berbagai bahasa.

Ratusan kitab telah dihasilkan Al-Farabi. Kehidupan sufi yang dijalaninya membuatnya tetap hidup sederhana dengan pikiran dan waktu yang tetap tercurah untuk karir filsafatnya. Ia tutup usia di Damaskus pada 970 M. Amir Sayf ad-Dawla kemudian membawa jenazahnya dan menguburkannya di Damaskus. Ia dimakamkan di pemakaman Bab as-Saghir yang terletak di dekat makam Muawiyah, yang merupakan pendiri dinasti Ummayah.
Pemikiran dan Filsafat Al-Farabi

Filsafat Al-Farabi dapat dikelompokkan ke dalam Neoplatonis. Ia mensintesiskan buah pikir dua pemikir besar, yakni Plato dan Aristoteles. Guna memahami pemikiran kedua filsfuf Yunani itu, Al-Farabi secara khusus membaca karya kedua pemikir besar Yunanni itu, yakni On the Soul sebanyak 200 kali dan Physics sampai 40 kali.

Al-Farabi pun akhirnya mampu mendemonstrasikan dasar persinggungan antara Aristoteles dan Plato dalam sejumlah hal, seperti penciptaan dunia, kekekalan ruh, serta siksaan dan pahala di akhirat kelak. Konsep Farabi mengenai alam, Tuhan, kenabian, esensi, dan eksistensi tak dapat dipisahkan antara keduanya. Mengenai proses penciptaan alam, ia memahami penciptaan alam melalui proses pemancaran (emanasi) dari Tuhan sejak zaman azali.

Menurut Al-Farabi, Tuhan mengetahui bahwa Ia menjadi dasar susunan wujud yang sebaik-baiknya. Al-Farabi mengungkapkan bahwa Tuhan itu Esa karena itu yang keluar dari-Nya juga harus satu wujud. Sedangkan mengenai kenabian ia mengungkapkan bahwa kenabian adalah sesuatu yang diperoleh nabi yang tidak melalui upaya mereka. Jiwa para nabi telah siap menerima ajaran-ajaran Tuhan.

Sementara itu, menurut Al-Farabi, manusia memiliki potensi untuk menerima bentuk-bentuk pengetahuan yang terpahami (ma’qulat) atau universal-universal. Potensi ini akan menjadi aktual jika ia disinari oleh ‘intelek aktif’. Pencerahan oleh ‘intelek aktif’ memungkinkan transformasi serempak intelek potensial dan obyek potensial ke dalam aktualitasnya. Al-Farabi menganalogkan hubungan antara akal potensial dengan ‘akal aktif’ seperti mata dengan matahari.

Menurutnya, mata hanyalah kemampuan potensial untuk melihat selama dalam kegelapan, tapi dia menjadi aktual ketika menerima sinar matahari. Bukan hanya obyek-obyek indrawi saja yang bisa dilihat, tapi juga cahaya dan matahari yang menjadi sumber cahaya itu sendiri. Terkait filsafat kenegaraan, Al-Farabi membagi negara ke dalam lima bentuk. Pertama ada negara utama (al-madinah al-fadilah). Inilah negara yang penduduknya berada dalam kebahagiaan. Bentuk negara ini dipimpin oleh para nabi dan dilanjutkan oleh para filsuf. Kedua negara orang-orang bodoh (al-madinah al-jahilah). Inilah negara yang penduduknya tidak mengenal kebahagiaan.

Ketiga negara orang-orang fasik. Inilah negara yang penduduknya mengenal kebahagiaan, tetapi tingkah laku mereka sama dengan penduduk negara orang-orang bodoh. Keempat negara yang berubah-ubah (al-madinah al mutabaddilah). Penduduk negara ini awalnya mempunyai pikiran dan pendapat seperti yang dimiliki penduduk negara utama, tetapi mengalami kerusakan. Kelima negara sesat (al-madinah ad-dallah). Negara sesat adalah negara yang pemimpinnya menganggap dirinya mendapat wahyu. Ia kemudian menipu orang banyak dengan ucapan dan perbuatannya.
Kontribusi Ilmuwan Besar

Logika
Al-Farabi adalah ahli logika muslim pertama yang mengembangkan logika no-Aristotelian. Dia membagai logika ke dalam dua kelompok, pertama idea dan kedua bukti.

Musik
Selain seorang ilmuwan, Al-Farabi juga seorang seniman. Dia mahir memainkan alat musik dan menciptakan beragam instrumen musik dan sistem nada Arab yang diciptakannya hingga kini masih tetap digunakan musik Arab. Dia juga berhasil menulis Kitab Al-Musiqa – sebuah buku yang mengupas tentang musik. Bagi Al-Farabi, musik juga menjadi sebuah alat terapi.

Fisika
Farabi juga dikenal sebagai ilmuwan yang banyak menggali pengetahuan tentang eksistensi alam dalam fisika.

Psikologi
Social Psychology and Model City merupakan risalat pertama Al-Farabi dalam bidang psikologi sosial. Dia menyatakan bahwa, ”Seorang individu yang terisolasi tak akan bisa mencapai kesempurnaan dengan dirinya sendiri, tanpa bantuan dari orang lain.”

Biografi singkat Al-Ghazali

Nama lengkapnya adalah Miuhammmad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Abu Hamid Al Ghazali. Al Ghazali di lahirkan pada tahun 450 M di Thus, suatu kota yang terletak di Khurosan. Dia adalah anak seorang pembuat kain dari bulu (wol), tetapi Al Ghazali tidak diasuh oleh bapaknya sampai dewasa, karna ayahnya meninggal dunia. Setelah ayahnya meninggal dunia, dia diasuh oleh seorang ahli tasawuf.

Al Ghazali sudah mulai belajar fikih sejak masih kecil, dia belajar fikih di negri kelahirannya kepada syeh Ahmad Bin Muhammad Arrasikani, kemudian belajar pada Imam Abi Nasar Al Ismaili di negri Jurjan. Setelah mempelajari beberapa ilmu di negrinya, maka ia berangkat ke Nishabur dan belajar pada imam Al Haromain. Sejak belajar sama imam Al Haromain, ketajaman otak Al Ghazali sudah mulai kelihatan, sehingga dengan mudah dapat menguasai ilmu-ilmu yang menjadi ilmu pokok pada saat itu, seperti mantiq (logika), filsafat dan fikih mazhab syafii. Sehingga imam Al Haromain menjulukinya dengan sebutan “lautan tak bertepi”

Setelah wafatnya imam Al Haromain, imam Al Ghazali pergi ke Al Ashar untuk bersilaturrahmi kepada menteri Nizam Al Muluk, seorang menteri dari pemeritahan dinasti Saljuk. Disana dia disambut dengan penuh penghormatan sebagai ulamak dan ilmuan besar. Ketika berkumpul dengan para ulamak dan cendikiawan, mereka semua mengakui ketinggian ilmu yang dimiliki oleh Al Ghazali. Al ghazali dilantik menjadi seorang guru besar di sebuah perguruan tinggi nizamiah yang terletak di kota Bagdad, pelantikan ini dilakukan oleh menteri Nizham Al Muluk pada tahun 484 H/ 1091 M. Al Ghazali mengajar di perguruan tinggi ini selama empat tahun.

Pada tahun 288 H. Al Ghazali pergi ke Syam, setelah terlebihl dahulu menunaikan rukun iman yang ke lima (haji di tanah suci Makkah), Al Ghazali kemudian melanjutkan perjalanannnya ke Damaskus (Siriya) disinilah Al Ghazali menetap untuk beberapa lama. Di Damaskus Al Ghazali sering sekali beribadah di masjid Al Umawi sehingga pada saat ini, masjid tersebut diubah namanya menjadi masjid Al Ghazali. Di sini juga Al Ghazali menulis sebuah buku yang sangat pamilier dikalangan ummat islam Indonesia, yaitu kitab ihya ulumu Addin.

Setelah tinggal di Damaskus selama sepuluh tahun Al Ghazali menyelesaikan tulisannya kemudian kembali ke Bagdad, dia kemudian mengajarkan isi kitabnya di majlis-majlis taklim. Karna mengetahui Al Ghazali sudah kembali ke Bagdad, Muhammad penguasa pada saat itu meminta Al Ghazali untuk kembali ke Naisabur dan mengajar di perguruan Nizamiyah. Dia mengajar di sana selama dua tahun, setelah itu dia pulang dan kembali ke kampung halamannya di Thus. Al Ghazali kemudian mendirikan sebuah sekolah untuk mendidik para pukaha’ dan mutahawwifin (orang yang ahli dalam bidang tasawuf). Di kampung halamannyainilah Al Ghazali meninggal dunia, pada tahun 505 H/ 1111 M. pada usia 55 tahun.

Al ghazali adalah pengagum Francis Bacon, ini dapat di lihat dari kata-kata yang di kutip nya sesaat sebelum meninggal._ Sesaat sebelum meninggal, beliau sempat mengucapkan kata yang diucapka oleh Prancis Bacon­_ filsuf Inggris yaitu : kuletakkan arwah ku di hadapan Allah dan tanamkanlah jasadku dilipatan bumi yang sunyi senyap. Namaku akan bangkit kembali menjadi sebutan dan buah bibir umat manusia dimasa yang akan dating”[2]

2. Konsep Filsafat Al Ghazali

Tidak berlebihan jika kita mengatakan Al Ghazali adalah sang pemikir besar didalam Islam. Karna dia memberikan pengaruh yang sangat besar dan memberikan wajah baru pada dunia Islam. Hal ini terbukti dari kemampuannya mengadakan pembaharuan terhadap nilai-nilai keislaman yang sangat merosot pada saat itu.

Ia hidup disaat nilai keislaman mengalami dekadensi sedemikian rupa dan keimanan pada dasar-dasar kenabian serta hakekat dan pengamalan agama yang sangat merosot.

Penafsiran filosufis yang dilakukkan oleh filsuf Islam sebellumnya tidak memberikan pemikiran yang berpusat pada Islam, melainkan mereka banyak tertuju pada masalah-masalah klasik yang terdapat dalam pemikiran Yunani.[3]

Dalam menyampaikan pendapatnya, Al Ghazali banyak mengeritik para filsuf dengan bukunya yang berjudul tahafut al falasifah, Tetapi Ibnu Rusyd tidak mau kalah, dia lalu memberikan jawaban terhadap keritik Al Ghazali tersebut dan menyerang balik Al Ghazali, dengan buku nya yang berjudul tahafut al tahafut. Tidak hanya sampai disini, serangan pena terhadap Al Ghazali oleh Ibnu Rusyd terlihat sengit dengan buku yang ditulis Ibnu Rusyd fashl al maqal fi ma bayna al hikmah wa asy-syai’ah min al ittihal, _buku ini ditulis untuk mengkritik pendapat-pendapat Al Ghazali di kitab faishal al tafriqah bayna al islam wa az-zandaqah_[4].

Diantar hasil pemikiran Al Ghazali sebagai mana yang di tulis dalam kitab al munqiz min al dhalal . dia berpendapat bahwa pengetahuan yang paling benar adalah pengetahuan intuisi/makrifah yang disinari oleh Allah langsung kepada seseorang. Pengetahuan mistiklah yang membuat dia yakin dan merasa tenang setelah dia dilanda keraguan yang hebat. [5]

Al Ghazali membagi pengetahuan itu kepada tiga tingkat, yaitu pengetahuan orang awam, pengetahuan kaum intelektual, dan pengetahuan kaum sufi.[6] Orang awam menerima berita tanpa penyelidikan atau observasi terlebih dahulu. Contohnya, ada orang yang mengatakan “dirumah itu ada gembong narkoba” maka orang awam akan langsung percaya atau menolak pernyataan ini tanpa mengadakan penyelidikan terlebih dahulu, beda halnya dengan kaum intelektual, mereka akan menyelidiki kebenaran berita tersebut dengan menganalisis data-data yang ada. Apakah benar ada seorang disekitar rumah itu. Setelah meneliti sandal, suara percakapan,siapa saja yang sering bertamu kesana, dan apa saja kegiatan sang pemilik rumah, barulah mereka mengambil kesimpulan bahwa memang benar ada seorang gembong narkoba dirumah itu.

Tetapi berbeda dengan kaum sufi, para sufi setelah mendengar berita itu akan langsung membuka pintu sehingga mereka dapat melihat langsung apa isi rumah itu dan melihat orang didalam nya.

Pengetahuan yang ketiga inilah yang paling palid menurut Al Ghazali, pengetahuan seperti inilah yang disebut dengan makrifah. Makrifah dalam pengertian Al Ghazali adalah seperti pengetahuan yang dijalani para sufi. _lagipula pengetahuan yang ketiga ini lebih meyakinkan dan membawa kepastian daripada yang pertama dan kedua_[7]

Menurut Al Ghazali pengetahuan indrawi dan akal memiliki kebenaran yang tidak meyakinkan, karna panca indra sering menipu. misalnya, banyangan pohon di dalam air apabila kita melihatnya maka akan kelihatan hidup dan bergerak. Begiu juga dengan akal, ketika seseorang bermimpi tentang sesuatu, maka akan merasa benar-benar terjadi, walupun pada kenyataannya ketika telah bangun halini tidak dia temukan sama sekali. Karna itul, Al Ghazali menggambarkan kehidupan dunia ini bagaikan orang tidur, nanti kalau di akhirat atau setelah mati mereka baru bangun dan sadar bahwa apa yang ada di dunia ini berupa mimpi.[8]

Pengetahuan intuisi banyak mendapat tantangan, terutama dari sifat objektivitasnya. Namun perlu juga diketahui bahwa pengetahuan ini terjadi pada beberapa orang tertentu dengan pola yang sama, sehingga bisa dianggap sebagai mengetahuan intersubjektivitas. Pengetahuan intersubjektivitas bisa dikatagorikan sebagai pengeahuan ilmiah.[9]

Masalahnya kemudian adalah semua bentuk pengetahuan itu _empirisme,rasionalisme,dan iluminasionalisme_ bersumber dari manusia, bersifat relative.[10] Dalam menjelaskan hal ini KH. Syarkowi Dhafir mengatakan bahwa sesuatu yang bersifat mistik seperti do’a adalah suatu permasalahan yang bersifat Ilmiah, halini dapat dibuktikan dengan melakukan ritual keagamaan tertentu, apabila kita melakukan dengan cara yang sama dengan orang lain, maka akan mendapatkan hasil yang sama juga. Tetapi permasalahannya adalah apa ada orang yang berdoa dengan cara yang sama. Mungkin saja doanya saja yang sama, tetapi apakah keyakinan, keikhlasan, dan kedekatan nya dengan Allah juga sama?. Jadi untuk apa kita repot-repot menyalahkan suatu hal yang tidak dapat kita buktikan kebenarannya dengan pengalaman empirisme, apabila kita tidak bisa menyalahkannya dengan empirisme.

3. Ajaran Al Ghazali.

a. Tasawuf

Al ghazali adalah ilmuan yang tidak pernah puas dengan ilmu yang dimilikinya, ini dapat dilihat dari sikapnnya yang slalu ingin menguasai segala bidang. Sebagai seorang filsuf, Al Ghazali kerap kali meragukan semua macam pengetahuan, kecuali yang berrsifat indrawi dan pengetahuan hakikat. Karna skeptis yang begitu tinggi, sampailah Al Ghazli pada titik kulminasi terendah, yaitu meragukan semua macam ilmu, baik yang bersfat empiris, hakekat, maupun indarawi. Sebagaimana yang ia tulis dalam ktab Al Mugidz yaitu:

“ sikap skeptic yang menimpa diriku dan bertahan lama, telah berlangsung dengan suatu keadaan, dimana diriku tidak mempercayai terhadap pengetahuan indrawi”, bahkan keraguan ini semakin mendalam, dengan perktaannya “ bagamana pengetahuan indrawi itu dapat dterima. Sepeti halnya pengelihatan, sebagai indra yang terkuat. Ketika engkau melihat bayangan disangkanya diam, tidak bergerak. Tetapi dengan eksperimen dan analisa, setelah beberapa saat kau melihat bayangan itu bergerak, meskipun tidak sekaligus, melainkan perlahan-lahan sedikit demi sedikit, sehingga diketahui sebenarnya bayangan itu tidak kenal diam, demikian pula jika kamu melihat bintang, maka dikira dia kecil sebesar uang dinar, tetapi bukti sebenarnya bahwa bintang itu lebih besar dari bumi”[11]

Demikianlah krisis yang menimpa Al Ghazali sampai-sampai tidak dapat memercayai pengetahuan indrawi, pada pase selanjutnya, Al Ghazali bahkan tidak dapat meyakini pengetahuan yang didapat dari akal.

Untuk mengobati hal ini, pada akhirnya Al Ghazali kemudin mendalami tasawuf, maka datinglah Al Ghazali dan menmasukkan tsawuf dalam pangkuan islalm. Tetapi Al Ghazali tidak masuk kedalam tasawuf inkarnasi dan pantheisme karna dia tetap yakin dengan hakekat kebenaran ajaran Islam, oleh karna itu, buku-buku yang ditulisnya pun tidak keluar dari Al Quran dan Assunnah.

Memang sebenarnya sukar untuk menyebutkan sikap Al Ghazali tersebut dengan tasawuf , dan boleh jadi nama yang tepat adalah subyektivismus (keperibadian), sebagaimana yang disebutkan oleh J. Obermen, dalam bukunya der philosophischeund religious subyektivismus ghazalia ( keperibadian filsafat dan agama pada al ghazali). Pengetahuan yang ada pada Al Ghazali adalah berdasarkan pengetahuan yang memancar dalam hati, bagaikan sumber air yang bersih/jernih, bukan dari penyelidikan akal, tidak pula dari argument-argumen ilmu kalam.[12]

b. Filsafat metafisika.

Al Ghazali menghantam pendapat filsuf-filsuf yunani, dan juga ibnu sina c.s., dalam dua puluh masalah, diantara yang terpenting adalah:

Ø Al ghazali menyerang dalil-dalil aristoteles tentang azalinya dunia dan alam. Disini Al Ghazali berpendapat bahwa alam dari tidak ada menjadi ada sebab diciptakan oleh tuhan,

Ø Al ghazali menyerang kaum filsuf ( aristoteles ) tentang pastinya keabadian alam. Ia berpendapat bahwa kepastian keabadian alam terserah kepada tuhan semata-mata, mungkin saja alam itu terus menerus tiada akhir apabila tuhan menghendaki. Akan tetapi, bukanlah suatu kepastian adanya keabadian alam disebabkan oleh dirinya sendiri diluar kehendak tuhan.

Ø Al Ghazali menyerang pendapat kaum filsuf bahwa tuhan hanya mengetahui hal-hal yang besar saja, tetapi tidak mengetahui hal-hal yang lecil (juziat).

Ø Al Ghazali juga menentang pendapat kaum filsuf yang mengatakan bahwa segala sesuatu terjadi dengan kepastian hukum sebab akibat semata-mata, dan mustahil ada penyelewengan dari hukum itu. Bagi Al Ghazli segala pristiwa yang serupa dengan hukum sebab akibat itu hanyalah kebiasaan (adat) semata, dan bukan hukum kepastian. Dalam halini jelas Al Ghazali menyokong pendapat izraul adat dari al asyari.[13]

Dalam buku tahafut al Falasifah Al Ghazali memberikan argument dengan metode polemic yang logis, ilmiah dan terkonstruktur, dia adalah filsuf yang trkenal sebagai ulama’ logika yang memiliki kemampuan mujadalah yang baik daan teratur.

C. Etika/ Akhlak.

Apabila kita ingin menemukan ilsafat moral dari pemikiran yang dituangkan oleh Al Ghazali, maka masalah ini akan kita dapatkan dalam kitab ihya ulumuddin yang berisi teori tasawuf Al Ghazali. Mengenai tujuan pokok dari moral Al Ghazali kita jumpai pada semboyan tasawuf yang terkenal: al takhalluk bi akhlaqillahi ala thaqatil basyariyah.

Menurut Al Ghazali, ada tiga tujuan mempelajari akhlak,yaitu:

a. Mempelajari akhlak hanya sekedar sebagai setudi murni teoritis, yang berusaha memahami ciri murni kesusilaan (moralitas), tetapi tanpa bermaksud mempengaruhi prilaku orang yang mempelajarinya.

b. Memplajari akhlak sehingga meningkatkan sikap dan prilaku sehari-hari.

c. Karna akhalak trutama merupakan subyek teoritis yang berkenan dengan usaha menemukan kebenaran tentang hal-hal moral, maka dalam mempelajari akhlak harus mendapat kritik terus-menerus menenai standar moralitas yang ada, sehingga akhlak menjadi suatu subyek praktis, seakan-akan tanpa maunya sendiri. Al Ghazali setuju dengan teori kedua. Dia megatakan bahwa setudi tentang ilm al muammalat dimaksudkan guna latihan kebiasaan; tujuan latihan adalah untuk meningkatkan keadaan jiwa agar kebahagiaan dapat dicapai diakherat. [14]

Tanpa kajian ilmu ini, kebaikan tak dapat dicari, dan keburukan takdapat dihindari dengan sempurna. Prinsip-prinsif moral tidak dapat dipelajari dengan maksud untuk diterapkan semuanya didalam kehidupan sehri-hari. Al Ghazali mengatakaan pengetahuan yang tidak diamalkan tidak lebih baik dari kebodohan.[15]

Berdasarkan pendapatnya ini, dapat dikatakn bahwa akhalak yang dikembangkan Al Ghazali bercorak teleologis (ada tujuannya), sebab ia menilai amal dengan mengacu pada akibatnya. Corak etika ini mengajarkan , bahwa manusia mempunyaitujuan yang agung, yaitu kebahagiaan di akhirat, dan amal itu baik apabila ia mempunnyai pengruh pada jiwa yang amrmbuatnya menjurus ketujuan tersebut, dan dikatakan amal itu buruk apabila menghalangi jiwa mencapai tujuan itu. Bahkan amal ibadah seperti solat, zakat, puasa, maupun haji adalah baik disebabkan akibatnya bagi jiwa. Derajat baik dan buruk berbagai amal berbeda oleh sebab berbeda dalam hal pengaruh yang ditimbulkan dalam jiwa pelakunya.[16]

Adapun masalah kebahagiaan, menurut Al Ghazali tujuan manusia adalah kebahagiaan ukhrawi (as saadah al ukhrawiyah), yang biasa diperoleh jika persiapan yang perlu untuk dilakukan dalam hidup ini dengan mengendalikan sifat-sifat manusia dan bukan dengan membuangnya. Kelakuan manusia dianggap baik, jika itu membantu dalam kehidupan akhiratnya. Kebahagiaan ukhrawi adalah tema sentral ajaran para rasul dan demi menggerakkan orang kearah itulah, maka semua kitab suci diwahyukan. Karna itu, ilmu danakal adalah syarat pokok untuk mencapai kebahagiaan. Kemuliaan menurut Allah terletak pada usaha mencapai kebahagiaan ukhrawi, barang siapa yang gagal mencapainya maka lebih hina dari hewan yang hina. Karna hewan-hewan akan musnah dan orang yang gagal tersebut akan menderita dan sengsara.[17]

Kebahagiaan ukhrawi mempunyai empat ciri khas, yakni: berkelanjutan tanpa akhir, kegembiraan tanpa duka cita, pengetahuan tapa kebodohan dan kecukupn (ghina) yang tdak memutuhkan apa-apa lagi guna keputusan yang sempurna. Tentu saja kebahagiaan yang di maksud Al Quran dan Al Hadis adalah surga, sedangkan tempat kesengsaraan adalah Neraka. Nasib setiap orang akan ditentukan pada hari kebangkitan, tetapi akibat kebhagiaan dan kesengsaraan itu akan dimulai setelah kematian. Pada haari kebangkitan, jiwa itu dikembalikn pada suatu jasad; orang yang bangkit itu akan mempunnyai badan dan jiwa, dan akan hidup abadi dalam bentuk ini.[18]

Daftar pustaka.
H. A. Mustofa. Drs., filsafat islam, Bandung;pustaka setia, 2007,
Nasution, Hasyimsyah, Dr., M.A., Filsafat Islam, Jakarta: GMP, 1999.
Shubhi, Ahmad Mahmud, Dr., Filsafat Etika, Jakarta: Serambi, 2001. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar